Agen Judi Online – Inter Milan Belum Konsisten

Inter Milan

Bandar Taruhan Casino Online – Mancini sempat menyeberang ke Liga Turki melatih Galatasaray. Meraih gelar Liga Super Turki dan kembali melatih Inter Milan, kesebelasan yang pernah ditukanginya sebelum City. Mancini melatih Inter sejak 2004 sampai 2008, hingga Massimo Moratti, presiden Inter saat itu, lebih tertarik kepada Jose Mourinho untuk memenuhi ambisinya meraih treble winner. Tapi Mancini tidak merasa trauma karena pernah ditendang dari Stadion Giuseppe Meazza. Lagian Moratti bukan orang nomor satu lagi di Inter. Sebab, Mancini tidak harus menuruti keinginan Moratti lagi karena kepresidenan Inter sudah beralih kepada Erick Thohir. Kendati demikian, tetap saja pragmatisme Mancini tidaklah hilang seperti rasa traumanya di Kota Milan.

Inter Milan

Inter Milan

Awalnya, pragmatisme Mancini berjalan dengan lancar. Mulai dari merekrut para pemain incarannya seperti Geoffrey Kondogbia, Ivan Perisic, Jeison Murillo, Joao Miranda, Felipe Melo, Stevan Jovetic, Adem Ljajic, Martin Montoya dan lainnya. Kecuali Montoya, seluruh pemain baru Inter itu berhasil menjadi kepingan penting musim ini. Mereka memulai musim bersama Inter dengan formasi 4-3-1-2. Lima pertandingan awal Serie-A 2015/2016 dijalani dengan sempurna alias memenangkan seluruh laga. Inter pun menduduki puncak klasemen sementara musim ini dari pekan ke-3 sampai ke-5.

Bursa Taruhan Judi Online Android Indonesia

Tapi jika disimak Inter selalu menang dengan selisih satu gol, entah itu 1-0, atau dengan skor 2-1. Formasi 4-3-1-2 masih menjadi andalan. Hanya saja ketika ketika menghadapi Hellas Verona pada partai giornata kelima, Mancini mengubah formasinya menjadi 4-3-2-1. Sebuah tembakan peringatan pun meledak. Setelah lima pertandingan yang sempurna, Inter babak belur dihajar Fiorentina dengan skor 4-1. Kekalahan itu terjadi ketika Mancini mengubah formasinya menjadi 3-5-2 pada giornata keenam itu.  Kekalahan besar di kandang sendiri, di Stadion Giuseppe Meazza itu, amat mempengaruhi mental para pemain. Memalukan. Rasa malu itu setara dengan pemeran opera sabun yang terpeleset karena hak sepatunya patah. Sejak itu Inter sulit menang. Tiga laga berikutnya dirampungkan tanpa kemenangan. Mereka ditahan imbang Sampdoria, Juventus dan Palermo.

Uniknya, Mancini menerapkan formasi berbeda saat melakoni setiap tiga laga beruntun itu. Ketika melawan Sampdoria, Inter bermain dengan 4-3-2-1. Kemudian formasi 4-3-3 melawan Juventus dan 4-4-2 ketika menghadapi Palermo.  Mulai dari situlah konsistensi taktik Mancini diuji. Ia kerap bongkar pasang formasinya dalam beberapa pertandingan berbeda. Total, Inter menggunakan enam taktik berbeda dari 17 laga Serie-A 2014/2015. Kendati demikian, pergantian formasi itulah yang membuat Inter berada di puncak klasemen lagi pada pekan ke-13, kemudian berada di sana dari pekan ke-15 sampai pekan ke-18.